Oleh DR. Suyanto, S.Kar., M.A.
Abstract
This
essy entitled “Implementation of Morality Impression and Culture for
Children by Creative Product of Wayang Purwa Performance”. In general,
Wayang performance contains Javanese culture massages and philosophical
values as the way of life, morality, education, and religion. Wayang
Purwa means a kind of Javanese wayang which explore the story from
Mahabharata or Ramayana eppic.
Wayang
does not only exist in Java or Indonesia, but also suround the world.
It has been decreed and proclamed by UNESCO on 7 November 2003, that
Wayang Indonesia was as a Masterpiece of the Oral and intangible
Heritage of Humanity, or a Cultural Masterpeace of the World. On the one
hand, it was a greate achievement for Indonesia, but on the other hand,
we have a serious problem that nowadays there are not too many people
in Indonesia know about wayang.
We
have to think about the next, what must we do for wayang? Our
generation need to understand about the wayang, becousse wayang involves
many kind of phylosophy values. Wayang has also education values which
useable to build up psicology’s growed of children, so that they will
become good personality. By understanding of wayang’s values, they will
aware how important to know about wayang story.
One
of important thing is how to bring our young generation to recognize
and to love toward wayang, particularly the kinds of caracteristic of
Wayang Purwa. One of alternative is gives an experience as beginning as
posible by thouching, whacting and doing wayang, whic according to
caracteristic of children.
Key words: wayang, value, children
A. Pendahuluan
Makalah
ini merupakan perasan dari penelitian Hibah Kompetensi yang dibiayai
oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional, sesuai dengan Surat perjanjian Pelakanaan Hibah Kompetisi
Nomor: 221/SP2H/PP/DP2M/V/2008, tanggal 30 Mei 2009, yang penulis
lakukan di wilayah Solo Raya; khususnya mengenai produk kreatif pentas
wayang untuk anak usia sekolah SD dan SMP. Di dalam kerangka mewujudkan
semboyan Solo spirit of Java, event-event budaya dan kegiatan produktif
kreatif yang mengandung nilai-nilai keunikan itu perlu dipadukan sebagai
bagian yang utuh dari pencitraan (branding) Solo Raya. Keragaman budaya
lokal di Solo Raya layak mendapat perhatian untuk dikembangkan agar
menghasilkan karya yang inovatif sehingga dapat mencerminkan keunggulan
bangsa sekaligus berdampak pada pengokoh
an
budaya lokal.
Pertunjukan
wayang, terutama wayang kulit purwa, merupakan salah satu karya budaya
Bangsa Indonesia khususnya nenek moyang orang Jawa yang sarat dengan
nilai-nilai kehidupan, baik religi, filsafat, pendidikan (budi pekerti),
dan sebagainya. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila UNESCO
memproklamirkan, bahwa wayang merupakan salah satu karya agung warisan
budaya dunia non-benda (a masterpiece of oral and intangible heritage of
humanity) yang perlu dilestarikan.
Pengertian
non-benda dalam konteks ini adalah hal-hal yang tidak dapat diraba,
yaitu tentang kandungan nilai dalam seni wayang yang luar biasa dan
dihargai oleh dunia itu. Ini bukanlah semata-mata sanjungan belaka untuk
membanggakan diri. Akan tetapi, itu merupakan cambuk bagi bangsa
Indonesia untuk introspeksi dan melihat ke depan apa yang harus
diperbuat, agar nilai-nilai yang terkandung dalam seni wayang itu
menjadi lebih berarti bagi kehidupan manusia.
Ditinjau
dari aspek pertunjukannya, wayang Jawa terdiri dari beberapa macam; di
antaranya adalah Wayang Purwa, Wayang Gedhog, Wayang Madya, dan Wayang
Wasana. Wayang purwa pada umumnya menggelarkan lakon yang bersumber pada
siklus ceritera Ramayana dan Mahabharata; Wayang Gedhog bersumber pada
siklus ceritera Panji; Wayang Madya besumber pada siklus ceritera Madya,
yaitu ceritera mengenai tokoh-tokoh keturunan Pandawa setelah raja
Parikesit pada akhir zaman kerajaan Hastina. Wayang Wasana adalah
pertunjukan wayang yang mengambil ceritera dari kisah-kisah kerakyatan
dan sejarah; pertunjukannya berupa wayang suluh, wayang kancil, wayang
Pancasila, wayang perjuangan, dan sebaginya. Adapun yang dimaksud wayang
dalam penelitian ini adalah pertunjukan wayang kulit yang juga lazim
disebut Wayang Purwa.
B. Pesan Moral dan Budaya dalam Wayang
Sebagaimana
dinyatakan oleh Susilo (2000: 74) bahwa, wayang secara tradisional
adalah intisari kebudayaan masyarakat Jawa yang merupakan warisan
turun-tumurun, dan secara konvensional telah diakui bahwa ceritera dan
karakter tokoh-tokoh wayang itu merupakan cerminan inti dan tujuan hidup
manusia. Penggambarannya sedemikian halus, penuh dengan simbol-simbol
(pralambang dan pasemon) sehingga tidak setiap orang dapat menangkap
pesan atau nilai-nilai yang ada di dalamnya. Kehalusan wayang merupakan
kehalusan yang sarat dengan misteri. Hanya orang-orang yang telah
mencapai tingkatan batin tertentu saja yang mampu menangkap inti sari
dari pertunjukan wayang.
Wayang
pada hakikatnya adalah simbol dari kehidupan manusia yang bersifat
kerokhanian. Sebagai kesenian klasik tradisional, wayang mengandung
suatu ajaran yang bersinggungan dengan hakikat manusia secara mendasar.
Di antaranya ialah ajaran moral yang mencakup moral pribadi, moral
sosial, dan moral raligius (Nugroho, 2005: 11). Pertunjukan wayang
menggelarkan secara luas mengenai hakikat kehidupan manusia dan segala
di sekitarnya serta rahasia hidup beserta kehidupan manusia. Melalui
pertunjukan wayang manusia diseyogyakan merenungkan hidup dan kehidupan
ini utamanya mengenai kehidupan pribadi yang berhubungan dengan sangkan
paraning dumadi dan apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi kehidupan
di dunia yang tidak lama ini.
Anderson (1996) berpendapat bahwa, wayang sebagaimana “sistem” etika dan metafisika yang lain, mempunyai pretensi untuk membeberkan pengertian tentang alam semesta.
Anderson (1996) berpendapat bahwa, wayang sebagaimana “sistem” etika dan metafisika yang lain, mempunyai pretensi untuk membeberkan pengertian tentang alam semesta.
Kendatipun
sebagian ceritera berdasarkan epos Ramayana dan Mahabharata dari India,
tetapi mitologi wayang Jawa merupakan upaya dalam kerangka menyelidiki
posisi eksistensial orang Jawa secara puitis, korelasinya dengan tatanan
alam kodrati dan adikodrati, dengan orang lain dan dengan dirinya
sendiri. Sebagaimana diutarakan oleh Rajagopalachari (dalam Murtanto,
2009: 9) bahwa mitologi merupakan bagian integral dari “agama”. Mitologi
adalah bagian mendasar bagi suatu agama dan kebudayaan nasioal, sebagai
kulit dan kerangka yang melestarikan sari dan cita rasa susatu agama
dan bangsa. Pengertian bentuk sama mendasarnya dengan isi. Orang tidak
dapat memeras agama dan menyarikan isinya dalam dirinya sendiri. Jika
itu terjadi, maka agama tidak akan berguna dan tidak akan bertahan lama.
Setiap kebudayaan bes
ar
membutuhkan mitologi dan tokoh-tokoh suci sebagai fondasi spiritual yang
stabil, serta sebagai inspirasi dan pembimbing guna memberi pencerahan
bagi kehidupan.
Bagi
orang-orang di zaman moderen yang beranggapan dirinya sebagai manusia
serba ilmiah dan serba rasional, tentu saja memandang wayang sebagai
suatu yang tidak rasional dan tidak masuk akal, karena wayang hanyalah
dongeng, khayalan dan mitos belaka. Memang mitos dalam dunia pewayangan
merupakan simbol-simbol yang mampu memukau dan membangunkan daya
irrasional, serta menggetarkan jiwa manusia. Jika diamati secara cermat
dan dihayati dengan sungguh-sungguh, pertunjukan wayang mengandung
kajian filsafati sekaligus mistik. Istilah mistik dalam hal ini tidak
identik dengan klenik dan takhayul sebagaimana kebanyakan orang memberi
pengertian. Akan tetapi mistik yang berasal dari kata Yunani mistikos,
yang berarti “misteri” atau “rahasia”. Jadi yang dimaksud mistik dalam
hal ini adalah hal-hal rahasia ya
ng
berkait dengan keyakinan, bahwa dalam kehidupan ini manusia dapat
mengalami kesatuan transendental dengan yang Maha Kuasa, dengan melalui
meditasi (Susilo, 2000: 74-75).
Pendapat
Sarsita yang dikutib oleh Sena Sastra Amidjaja. (1964) menyatakan
bahwa, setiap pertunjukan wayang kulit pada dasarnya merupakan lambang
perjuangan batin, dalam berkompetisi, antara prinsip baik dan prinsip
buruk di dalam kehidupan manusia pada umumnya, atau dengan istilah lain
antara mistik dan magi. Pertujukan wayang kulit terdiri dari berbagai
adegan yang saling berhubungan erat antara satu dengan lainnya.
Masing-masing adegan melambangkan fase tertentu dari kehidupan manusia,
dan keberadaan fase-fase itu bersifat abadi. Akan tetapi dengan sengaja
ataupun tidak hal itu selalu diselubungi dengan kabut mistik, agama,
buah fantasi penciptanya, yang kemungkinan sangat tebal keberadaannya.
Apabila dianalisis secara seksama perbandingan itu akan nampak nyata.
Oleh karena itu hampir senantiasa kembal
i dapat
ditemukan unsur-unsur secara terurai yang membentuk susunan ketasawufan
sepanjang waktu itu.
Penulis
pada dasarnya setuju dengan pendapat-pendapat tersebut di depan, akan
tetapi ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam memberikan makna
pertunjukan wayang. Sebagai seni pertunjukan, wayang tidak dapat lepas
dari hakikat pertunjukan itu sendiri, di antaranya selain mengandung
aspek filsafati yang berupa nilai-nlai ajaran hidup, juga terdapat
kesan-kesan hiburan semata. Hal ini lazim disebut oleh masyarakat Jawa
bahwa, wayang selain sebagai tontonan juga menjadi tuntunan. Sejauh mana
orang memberikan makna terhadap pertunjukan wayang itu sesungguhnya
bergantung pada pemahaman dan kepentingan tiap-tiap individu terhadap
wayang itu.
Keindahan
dalam seni pertunjukan wayang meliputi seluruh kandungan nilai yang
tersirat di dalamnya. Maka pengertian indah dalam pertunjukan wayang
mempunyai lingkup pengertian sangat luas. Indah tidak berarti hanya
tampilan tokoh wayang yang bagus, halus, rumit, berwarna-warni; atau
suara gamelan yang mengalun disertai nyanyian swarawati yang merdu saja,
tetapi hal yang lebih penting dari pada itu adalah pesan-pesan yang
disampaikan oleh dalang dalam bentuk sajian secara utuh, baik ungkapan
tentang kebenaran, kejahatan, kegembiraan, maupun kesusahan, yang mampu
menyentuh hati para penonton atau penggemarnya. Itulah yang dimaksud
keindahan dalam seni pertunjukan.
Sebagaimana
konsep estetika pedalangan menurut Najawirangka (1960: 1: 57) seorang
guru dalang di keraton Surakarta pada masa itu, bahwa keindahan dalam
seni pertunjukan wayang itu ditentukan oleh penguasaan pengetahuan
(kawruh) yang dikemas dalam sepuluh istilah sebagai berikut: (1) Regu,
artinya pada waktu sore tampak berwiba; (2) Greget, artinya pada saat
suasana marah berkesan sunguh-sungguh; (3) Sem, maksudnya romantis; (4)
Nges, pada adegan sedih dapat menyentuh hati penonton; (5) Renggep,
artinya selalu semangat; (6) Antawacana, artinya wacana dalang sesuai
dengan suasana atau karakter wayang yang ditampilkan; (7) Cucut, artinya
lucu atau jenaka, mampu membuat penonton tertawa segar; (8)
Unggah-ungguh, artinya dalang menguasai kaidah-kaidah tata krama
pakeliran misalnya: penerapan tata bahasa, silsi
lah,
tanceban wayang, dan sebagainya; (9) Tutuk, artinya dalang memiliki
artikulasi wacana jelas; (10) Trampil, artinya trampil dalam memainkan
wayang, menggubah ceritera, menyingkat, mengulur, menguasai berbagai
unsur garap pakeliran, dan pengethuan lain-lain yang berhubungan dengan
keperluan mendalang.
Sebagaimana
telah dinyatakan oleh UNESCO (2004), bahwa wayang merupakan salah satu
karya agung warisan budaya dunia non benda, secara sosiokultural telah
melekat dalam keyakinan masyarakatnya. Jenis wayang yang berkembang di
daerah Surakarta cukup beragam, akan tetapi pengembangan bentuk
kekaryaan pentas yang secara khusus dikemas untuk pembelajaran anak-anak
usia sekolah dasar dan menengah belum ada data konkret yang tertata.
Meskipun sering diselenggarakan festival dalang anak-anak sewilayah Solo
Raya, sebagaimana yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Surakarta
(TBS), akan tetapi belum tersedia bentuk naskah pedalangan yang memang
dikemas untuk keperluan pentas anak-anak sekolah. Demikian pula boneka
wayang yang disediakan oleh pengrajin wayang, hingga sekarang belum ada
pengrajin yang membuat wayang y
ang
khusus untuk keperluan pentas khusus bagi anak-anak seusia sekolah,
kekaryaan mereka pada umumnya masih tidak beranjak dari konvensi yang
ada dan bergantung pada pesanan para pelanggannya saja belum ada
pemberdayaan secara optimal.
Oleh
karena itu para pengrajin yang berpotensi itu tidak pernah menghadapi
tantangan untuk mengembangkan kreatifitasnya. Demikian pula seniman
dalang sebagai pelaku pertunjukan wayang kulit, secara kuantitas cukup
banyak dan berpotensi, tetapi belum diberdayakan secara optimal dalam
kerangka pengembangan karya wisata seni dan peningkatan ekonomi kreatif.
Berpijak dari fenomena itu, potensi budaya tradisi wayang, baik dalam
bentuk tradisi maupun non tradisi perlu dikembangkan sebagai model
pengembangan industri kreatif dalam bentuk seni pentas wayang berbasis
anak sekolah. Hal ini penting dilakukan dalam rangka menghadapi
tantangan ekonomi kreatif serta menjaga kekokohan budaya lokal khususnya
keberlangsungan seni pentas wayang kulit.
Kemajuan
peradapan masyarakat yang berpacu dengan perkembangan budaya tehnologi
dan tuntutan ekonomi kreatif, perlu disikapi secara dini dengan
mengelola perkembangan usia anak di masa-masa awal pertumbuhan
intelegensinya. Derasnya pengaruh budaya global tidak perlu lagi menjadi
alasan tergesernya kebudayaan lokal, karena sumua itu bergantung pada
usaha dan kemampuan kita untuk mengelola. Perhatian dari berbagai pihak
menjadi sangat penting dalam hal ini, terutama pihak-pihak yang
berkompeten dalam pemerintahan. Semua ragam dan jenis seni budaya yang
ada di negeri ini adalah milik bangsa Indonesia, sudah barang tentu kita
yang harus memperhatikan, mencintai dan memeliharanya. Moto ataupun
semboyan tentang pelestarian budaya tidaklah cukup diucapkan oleh para
pejabat tinggi ketika memberi sambutan dalam su
atu
kongres budaya ataupun para seniman ketika berdemonstrasi, yang lebih
penting perlu adanya langkah-langkah riel yang harus dilakukan.
Anak
adalah calon generasi penerus yang merupakan aset utama dalam
pelestarian dan pengembangan budaya bangsa ini. Daya pikir anak ibarat
kertas putih yang belum ada tulisannya, kelak anak-anak kita akan
menjadi apa saja sesungguhnya salah satu aspek yang menentukan adalah
cara kita mendidik sejak awal. Anak-anak usia sekolah SD/SMP adalah usia
dini yang kemungkinan besar relatif mudah dididik dan diarahkan kepada
suatu objek yang dipandang menarik. Anak-anak seusia ini belum banyak
mengenal apa yang ada di sekitarnya. Mereka akan mudah tertarik pada
sesuatu yang dirasa lebih dekat dengan dunia mereka, baik bentuk,
karakter maupun nilai yang dikandung oleh suatu objek tertentu.
Wayang
kulit purwa merupakan produk kreatifitas seni yang mengandung nilai
estetika dan etika sangat tinggi, pada umumnya pertunjukan wayang bukan
untuk konsumsi dunia anak melainkan untuk orang dewasa. Akan tetapi
wayang purwa juga mengandung nilai-nilai yang dipandang penting untuk
membangun pertumbuhan kepribadian anak, karena di dalam pewayangan itu
banyak simbol-simbol ketauladanan yang mencerminkan nilai-nilai yang
maslahat bagi kehidupan. Nilai-nilai inilah yang perlu dilestarikan dan
dikenalkan sejak dini kepada anak-anak kita, dalam rangka membentuk
kepribadinnya sebagai bangsa timur. Yang perlu menjadi pemikiran adalah
bagaimana anak-anak kita mencintai seni pertunjukan wayang dan menyadari
spenuh hati betapa pentingnya nilai-nilai dalam dunia pewayangan itu,
serta mau menjadi pelaku tanpa ada p
aksaan
dan pemerkosaan hak anak. Akhir-akhir ini banyak bermunculan
dalang-dalang cilik yang dilombakan dengan menyajikan lakon-lakon yang
tidak proporsional bagi dunia mereka, misalnya anak seusia sekolah SD
menyajikan pakeliran padat lakon Ciptaning, Kangsa Lena, Anoman Duta,
dan sebagainya, pada hal naskah-naskah itu garapan mahasiswa S1. Dengan
demikian sangat jelas bahwa gagasan yang diungkapkan dalam karya-karya
itu bukanlah produk yang berbasis anak.
C. Perlunya Model Kemasan Pertunjukan Wayang Berbasis Anak
Mengacu
pada fenomena masyarakat dewasa ini, dipandang perlu adanya suatu model
kemasan pertunjukan wayang berbasis anak yang juga akan menarik bagi
dunia wisata anak. Kemasan itu akan memuat aspek-aspek garab yang
mencakup: bentuk boneka wayang, cerita, dan bentuk pertunjukannya, yang
khusus dikemas untuk keperluan pementasan seni wayang untuk anak-anak
usia sekolah SD dan/atau SMP; dengan tidak merubah ataupun menghilangkan
ciri khas wujud dan karakter wayang tradisional. Hal ini menjadi
pertimbangan penting, karena seni wayang secara visual memiliki konvensi
budaya yang sangat kuat di mata masyarakat (Jawa khususnya). Oleh
karena itu pengenalan wayang bagi anak-anak merupakan pengantar mendasar
untuk memahami tokoh-tokoh wayang secara dini, sehingga anak-anak itu
semakin dewasa pemahaman terhadap tokoh
-tokoh
wayang itu semakin mendarah daging.
Tujuan
penelitian ini adalah untuk menggali dan mengembangkan seni pertunjukan
wayang kulit melalui pemberdayaan seniman dalang dan kriyawan wayang,
serta anak-anak di sekolah dasar dan menengah, dalam kerangka pengokohan
budaya wayang kulit, dan pembangunan kepribadian generasi penerus,
serta peningkatan industri kreatif di wilayah Solo Raya. Untuk mencapai
terget tersebut perlu kegiatan dalam waktu tiga tahun dibagi dalam 3
tahap yakni.
Pada
tahap I kegiatan diarahkan pada identifikasi bentuk pertunjukan wayang
kulit di wilayah Solo Raya. Kajian dilakukan dengan pendekatan
eksploratif, wayang yang ada di wilayah Solo Raya sebagai objek
penelitian akan diidentifikasi gaya maupun bentuk penyajiannya. Keunikan
visual atau gaya wayang pada dasarnya juga terwujud karena efek dari
bahan, bentuk, dan konstruksi, serta naskah lakonnya. Berdasarkan konsep
tersebut maka wayang perlu dibahas untuk dirumuskan karakteristiknya.
Secara
struktur wayang diidentifikasi selanjutnya akan dianalisis untuk
ditemukan karakteristik yang dapat dikembangkan sebagai sumber ide
pengembangan bentuk sajian berbasis anak, baik dari sisi seni rupa
maupun dari seni pertunjukannya dalam upaya mendukung penanaman pesan
moral pendidikan moral anak-anak usia sekolah khususnya di wilayah Solo
Raya. Untuk mendukung rumusan model tersebut kajian diarahkan pula pada
pendalaman pribadi anak secara biologis yang akan ditemukan
karakteristik anak terkait dengan selera dan keinginan anak pada dunia
hiburan dan seni. Anak merupakan calon pengguna maupun sebagai calon
pelaku. Memahami informasi pengguna maupun pelaku seni penting
dilakukan, dalam rangka memahami perilaku pengguna maupun pelaku seni.
Pendekatan
fenomenologi memandang perilaku manusia, apa yang mereka katakan dan
apa yang mereka lakukan adalah sebagai suatu produk dari bagaimana orang
melakukan tafsir terhadap dunia mereka sendiri (Feldman, 1967). Dengan
demikian pada penelitian ini pendekatan fenomenologis dipinjam untuk
memahami makna dari berbagai peristiwa dan interaksi manusia dalam
situasinya untuk menemukan karakteristik gaya hidup secara umum.
Meminjam teori kepribadian dalam ilmu psikhologi yang menyatakan, bahwa
untuk memahami kepribadian berarti mengenal manusia dihubungkan dengan
situasi lingkungannya yang merupakan pengalaman konkrit, dari aspek yang
umum sebagai manusia dan ciri-cirinya yang khas dan unik. Model yang
baik adalah model atau desain yang dapat menjawab esteem needs, social
needs, security needs, dan physiolo
gical
needs, maka desain harus memperhatikan faktor biologi manusia. Hasil
temuan tentang karakteristik anak akan menjadi informasi penting untuk
perumusan media dan naskah pentas wayang kulit berbasis anak.
Kegiatan
tahap II, diarahkan pada uji coba hasil rumusan model pentas wayang
kulit berbasis anak. Uji coba dalam perwujudan media wayang, naskah, dan
pementasan di beberapa pelaku seni pertunjukan wayang dan pengrajin
benda kria atau desainer. Dengan strategi pemahaman teoritis dan drill
pengrajin dilatih untuk membuat wayang kulit untuk anak; anak diajak dan
dilatih menjadi dalang dan diajak mengikuti festival pentas wayang
kulit purwa di Solo Raya; Mengingat kegiatan ini lebih ditekankan pada
kegiatan uji coba model maka hasil kegiatan akan dianalisis untuk
dievaluasi. Hasilnya akan dilakukan penyempurnaan desain dan utamanya
pada strategi-strategi yang penting dipahami oleh pelaku seni wayang dan
dapat diterima masyarakat. Penyempurnaan ini akan dikemas dalam sebuah
buku panduan pengembangan wayang ber
basis
anak yang di dalamnya memuat strategi model pengembangan, contoh bentuk
media, dan contoh naskah.
Tahap
III, adalah tahap penghiliran hasil secara umum kepada masyarakat.
Hasil temuan akan disosialisasikan melalui kegiatan pelatihan dan
pendampingan di masyarakat secara luas, khususnya di Sekolah Dasar dan
Sekolah Menengah serta Sanggar seni. Melalui kegiatan pelatihan dan
pendampingan diharapkan minat anak terhadap seni wayang kulit berbasis
anak semakin meningkat, tanpa disadari memberikan dampak pada perilaku
anak karena pesan moral yang terkandung dalam wayang kulit berbasis
anak. Pihak sekolah atau Dinas Pendidikan dapat menangkap posistif hasil
tersebut selanjutnya dapat mempertimbangkan dalam penyusunan kurikulum
Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah.
D. Lakon Pakeliran Dalang Bocah yang pernah disajikan
Berikut
ini adalah sejumlah repertoar lakon pakeliran yang disajikan oleh 41
dalang cilik peserta Temu Dalang Cilik Nusantara III 2009 di Taman
Budaya Jawa Tengah di Surakarta pada tanggal 15–20 Juli 2009.
1. Pethilan adegan gara-gara dan perang samberan Gathutkaca (tanpa lakon), oleh GRM. Suryo Aryo Mustiko (Kota Surakarta).
2. Lakon “Nggeguru (Déwaruci),” oleh Rakha Alfirdaus Hikmatyar (Kabupaten Sukoharjo).
3. Lakon “Gathutkaca Jèdhi,” oleh Cendekia Ishmatuka Srihascaryasmoro (Kota Surakarta).
4. Lakon “Kangsa Léna,” oleh Pandu Condro Wicaksono (Kabupaten Grobogan).
5. Lakon “Babad Wanamarta,” oleh Pulung Wicaksana Nugraha (Kabupaten Klaten).
6. Lakon “Déwaruci,” oleh Hanang Sinardoyo (Kabupaten Klaten).
7. Pethilan adegan paséban jawi sampai dengan budhalan (tanpa lakon), oleh Pandam Aji Anggoro Putro (Kabupaten Wonogiri).
8. Lakon “Brajadenta mBaléla,” oleh Bian Diva Nurisa (Kota Surakarta).
9. Lakon “Adon-adon Rajamala,” oleh Canggih Tri Atmojo Krisno (Kabupaten Karanganyar).
10. Lakon “Wirathaparwa,” oleh Magistra Yoga Utama (Kabupaten Karanganyar).
11. Lakon “Si Jabang Tetuka,” oleh Wisnu Septiawan (Kabupaten Wonogiri).
12. Lakon “Anoman Duta,” oleh Arko Kilat Kusumaningrat (Kota Surakarta).
13. Lakon “Guwarsa–Guwarsi,” oleh Rizky Fauzyah (Kota Surakarta).
14. Lakon “Déwaruci,” oleh Guntur Gagat Tri Putranto (Kabupaten Sragen).
15. Lakon “Gathutkaca Lair,” oleh Gadhing Panjalu Wijanarko Putro (Kabupaten Sragen).
16. Lakon “Déwaruci,” oleh Bagas Priambodo (Kabupaten Pati).
17. Lakon “Babad Wanamarta,” oleh Wisnu Prilaksono (Kabupaten Pati).
18. Lakon “Kresna Duta,” oleh Adam Gifari (Kabupaten Boyolali).
19. Lakon “Palguna–Palgunadi,” oleh Pandu Gandang Sasongko (Kabupaten Sragen).
20. Lakon “Bima Bothok,” oleh Bayu Praba Prasapa Aji (Kabupaten Sleman).
21. Pethilan adegan gara-gara dan perang samberan Gathutkaca (tanpa lakon), oleh Rafael Wicaksono Hadi (Kota Surakarta).
22. Pethilan perang gagal (tanpa lakon), oleh Fakih Trisera Filardi (Kota Bekasi Barat).
23. Lakon “Banjaran Sari,” oleh Danan Wisnu Pratama (Kota Jakarta Selatan).
24. Lakon “Bima Ngaji (Déwaruci),” oleh Amar Pradhopo Zedha Beviantyo (Kabupaten Sukoharjo).
25. Lakon “Ontran-ontran Mandura,” oleh Yusstanza Razali (Kota Jakarta Selatan).
26. Lakon “Déwa Amral,” oleh Dwi Adi Nugroho (Kota Jakarta Selatan).
27. Lakon “Gandamana Tundhung,” oleh Bimo Sinung Widagdo (Kota Jakarta Barat).
28. Lakon “Bambang Sukskadi (Dadiné Pétruk Garèng),” oleh Galih Wahyu Sejati (Kabupaten Wonosobo).
29. Lakon “Wasi Jaladara,” oleh Dyo Maulana Akhirwan (Kota Jakarta).
30. Lakon “Wirathaparwa,” oleh Pramel Bagaskoro (Kota Jakarta Selatan).
31. Lakon “Babad Wisamarta,” oleh Anggit Laras Prabowo (Kabupaten Karanganyar).
32. Lakon “Rama Tambak,” oleh Anindita Nur Bagaskara (Kabupaten Wonosobo).
33. Lakon “Déwaruci,” oleh Handika Krisna Majid (Kabupaten Wonosobo).
34. Lakon “Ampak-ampak Astina (Gandamana Tundhung),” oleh Mahendra Wisnu Pradana (Kabupaten Wonosobo).
35. Pethilan perang gagal (tanpa lakon), oleh Abimanyu (Kota Bekasi Utara).
36. Pethilan adegan paséban jawi sampai dengan budhalan (tanpa lakon), oleh Sulthan Dzaky Trisnaji (Kabupaten Cilacap).
37. Lakon “Anoman Kridha,” oleh Ali Yudhistira (Kota Bekasi).
38. Lakon “Arimbaka Léna,” oleh Bima Aris Purwandaka (Kabupaten Bantul).
39. Lakon “Rama Tambak,” oleh Sihhono Wisnu Purwolaksito (Kabupaten Mojokerto).
40. Lakon “Aji Narantaka,” oleh Sindhunata Gesit Widiharto (Kota Semarang).
41. Lakon “Caru Mangan Caru,” oleh I Wayan Dian Anindya Bhaswara (Kabupaten Gianyar).
2. Lakon “Nggeguru (Déwaruci),” oleh Rakha Alfirdaus Hikmatyar (Kabupaten Sukoharjo).
3. Lakon “Gathutkaca Jèdhi,” oleh Cendekia Ishmatuka Srihascaryasmoro (Kota Surakarta).
4. Lakon “Kangsa Léna,” oleh Pandu Condro Wicaksono (Kabupaten Grobogan).
5. Lakon “Babad Wanamarta,” oleh Pulung Wicaksana Nugraha (Kabupaten Klaten).
6. Lakon “Déwaruci,” oleh Hanang Sinardoyo (Kabupaten Klaten).
7. Pethilan adegan paséban jawi sampai dengan budhalan (tanpa lakon), oleh Pandam Aji Anggoro Putro (Kabupaten Wonogiri).
8. Lakon “Brajadenta mBaléla,” oleh Bian Diva Nurisa (Kota Surakarta).
9. Lakon “Adon-adon Rajamala,” oleh Canggih Tri Atmojo Krisno (Kabupaten Karanganyar).
10. Lakon “Wirathaparwa,” oleh Magistra Yoga Utama (Kabupaten Karanganyar).
11. Lakon “Si Jabang Tetuka,” oleh Wisnu Septiawan (Kabupaten Wonogiri).
12. Lakon “Anoman Duta,” oleh Arko Kilat Kusumaningrat (Kota Surakarta).
13. Lakon “Guwarsa–Guwarsi,” oleh Rizky Fauzyah (Kota Surakarta).
14. Lakon “Déwaruci,” oleh Guntur Gagat Tri Putranto (Kabupaten Sragen).
15. Lakon “Gathutkaca Lair,” oleh Gadhing Panjalu Wijanarko Putro (Kabupaten Sragen).
16. Lakon “Déwaruci,” oleh Bagas Priambodo (Kabupaten Pati).
17. Lakon “Babad Wanamarta,” oleh Wisnu Prilaksono (Kabupaten Pati).
18. Lakon “Kresna Duta,” oleh Adam Gifari (Kabupaten Boyolali).
19. Lakon “Palguna–Palgunadi,” oleh Pandu Gandang Sasongko (Kabupaten Sragen).
20. Lakon “Bima Bothok,” oleh Bayu Praba Prasapa Aji (Kabupaten Sleman).
21. Pethilan adegan gara-gara dan perang samberan Gathutkaca (tanpa lakon), oleh Rafael Wicaksono Hadi (Kota Surakarta).
22. Pethilan perang gagal (tanpa lakon), oleh Fakih Trisera Filardi (Kota Bekasi Barat).
23. Lakon “Banjaran Sari,” oleh Danan Wisnu Pratama (Kota Jakarta Selatan).
24. Lakon “Bima Ngaji (Déwaruci),” oleh Amar Pradhopo Zedha Beviantyo (Kabupaten Sukoharjo).
25. Lakon “Ontran-ontran Mandura,” oleh Yusstanza Razali (Kota Jakarta Selatan).
26. Lakon “Déwa Amral,” oleh Dwi Adi Nugroho (Kota Jakarta Selatan).
27. Lakon “Gandamana Tundhung,” oleh Bimo Sinung Widagdo (Kota Jakarta Barat).
28. Lakon “Bambang Sukskadi (Dadiné Pétruk Garèng),” oleh Galih Wahyu Sejati (Kabupaten Wonosobo).
29. Lakon “Wasi Jaladara,” oleh Dyo Maulana Akhirwan (Kota Jakarta).
30. Lakon “Wirathaparwa,” oleh Pramel Bagaskoro (Kota Jakarta Selatan).
31. Lakon “Babad Wisamarta,” oleh Anggit Laras Prabowo (Kabupaten Karanganyar).
32. Lakon “Rama Tambak,” oleh Anindita Nur Bagaskara (Kabupaten Wonosobo).
33. Lakon “Déwaruci,” oleh Handika Krisna Majid (Kabupaten Wonosobo).
34. Lakon “Ampak-ampak Astina (Gandamana Tundhung),” oleh Mahendra Wisnu Pradana (Kabupaten Wonosobo).
35. Pethilan perang gagal (tanpa lakon), oleh Abimanyu (Kota Bekasi Utara).
36. Pethilan adegan paséban jawi sampai dengan budhalan (tanpa lakon), oleh Sulthan Dzaky Trisnaji (Kabupaten Cilacap).
37. Lakon “Anoman Kridha,” oleh Ali Yudhistira (Kota Bekasi).
38. Lakon “Arimbaka Léna,” oleh Bima Aris Purwandaka (Kabupaten Bantul).
39. Lakon “Rama Tambak,” oleh Sihhono Wisnu Purwolaksito (Kabupaten Mojokerto).
40. Lakon “Aji Narantaka,” oleh Sindhunata Gesit Widiharto (Kota Semarang).
41. Lakon “Caru Mangan Caru,” oleh I Wayan Dian Anindya Bhaswara (Kabupaten Gianyar).
Dari
41 dalang cilik tersebut, hanya 6 anak yang menyajikan fragmen
(pethilan) tanpa terbingkai oleh lakon tertentu; sedangkan 35 anak
menyajikan repertoar lakon wayang kulit purwa yang menurut pengamatan
peneliti bukan garapan standar untuk dunia anak. Lakon-lakon tersebut
merupakan garap padat yang dikemas untuk ukuran dalang dewasa dan yang
telah terampil, sehingga kesan-kesan yang memberikan pengalaman wisata
budaya bagi anak tidak tercermin dalam pertunjukan tersebut.
E. Konsep Garap Wayang berbasis Anak Usia SD/SMP.
1.
Bentuk pertunjukan wayang untuk anak usia sekolah SD/SMP ini masih
mengacu pada nilai-nilai tradisi yang ada, serta ditekankan pada
nilai-nilai rokhani yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.
Khusus untuk anak perlu ada penekanan nilai yang mendasar untuk
pendewasaan anak yang diharapkan masih berakar pada budayanya.
Diharapkan pada pengungkapnan nilai tersebut, berisi tentang budi
pekerti dan kaedah-kaedah budaya jawa yang disesuaikan dengan tingkatan
pendewasaan anak mengenai kepekaan rasanya. Hal ini dikandung maksud
mengenalkan kembali tentang etika dan estetika Jawa.
2.
Untuk mengungkapkan nilai-nilai tersebut, perlu dicari garapan-garapan
unsur yang ada seperti, Lakon, sabet, karawitan, bahasa dan boneka
wayang serta perlengkapan lain pendukunnya. Misalnya :
a. Garapan lakon. Berhubung cerita Mahabarata dan Ramayana masih sangat dikenal dan kadang masih menjadi pandangan hidup kelompok tertentu, masih relevan kita gunakan. Hanya pada bagian-bagian tertentu perlu adanya sanggit-sanggit baru yang lebih berhasil.
b. Garapan bahasa, diharapkan yang komunikatif. Hal ini dapat ditempuh dengan explorasi perbendaharaan, baik bahasa jawa maupun bahasa Indonesia, dengan mempertimbangkan bahasa yang sederhana dan puitis serta mudah ditangkap dan dimengerti secara sentuhan rasa. Pada garapan ini diusahakan penggunaan bahasa yang singkat dan padat, yang penting nilai yang terkandung tepat sasaran.
c. Garapan Sabet atau gerak wayang. Pada garapan ini selain masih bisa menggunakan repertoar yang ada juga perlu penjelajahan gerak-gerak baru, baik secara ujut langsung maupun bayangan dengan dibantu pencahayaan yang mewadahi.
d. Garapan Karawitan.
Karawitan dalam pertunjukan wayang tidak sekedar mendukung suasana adegan atau tokoh, tetapi dapat mengantarkan bahkan dapat mewujutkan karakter kedalam suasana adegan tertentu. Kadang-kadang unsur lain seperti sabet tidak akan jelas maknanya tanpa dukungan iringan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat ditempuh sebagai berikut :
a. Garapan lakon. Berhubung cerita Mahabarata dan Ramayana masih sangat dikenal dan kadang masih menjadi pandangan hidup kelompok tertentu, masih relevan kita gunakan. Hanya pada bagian-bagian tertentu perlu adanya sanggit-sanggit baru yang lebih berhasil.
b. Garapan bahasa, diharapkan yang komunikatif. Hal ini dapat ditempuh dengan explorasi perbendaharaan, baik bahasa jawa maupun bahasa Indonesia, dengan mempertimbangkan bahasa yang sederhana dan puitis serta mudah ditangkap dan dimengerti secara sentuhan rasa. Pada garapan ini diusahakan penggunaan bahasa yang singkat dan padat, yang penting nilai yang terkandung tepat sasaran.
c. Garapan Sabet atau gerak wayang. Pada garapan ini selain masih bisa menggunakan repertoar yang ada juga perlu penjelajahan gerak-gerak baru, baik secara ujut langsung maupun bayangan dengan dibantu pencahayaan yang mewadahi.
d. Garapan Karawitan.
Karawitan dalam pertunjukan wayang tidak sekedar mendukung suasana adegan atau tokoh, tetapi dapat mengantarkan bahkan dapat mewujutkan karakter kedalam suasana adegan tertentu. Kadang-kadang unsur lain seperti sabet tidak akan jelas maknanya tanpa dukungan iringan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut dapat ditempuh sebagai berikut :
1).
Menggunakan repertoar gending-gending tradisi dengan berbagai waton
yang ada. Pada bagian ini ditekankan menggunakan repertoar gendhing
untuk anak yang relevan.
2). Menggunakan repertoar gending dari berbagai gaya yang diminati. Seperti gaya yogyakarta, Surakarta, Banyumasan dan gaya yang lain. ( termasuk gending untuk tari dan atau jenis pertunjukan lain).
3). Menggunakan repertoar gending didasarkan pada konsep
iringan pakeliran padat.
4) Membuat gending baru. Untuk membuat gending baru, pencipta dapat membuat dengan pola bentuk gending yang sudah ada, seperti bentuk gending kethuk loro kerep, ketawang gending, ladrang, ketawang, lancaran, Sampak dan Srepeg. Dan membuat bentuk baru, seperti Gantungan, tandingan, palaran Jenggleng, dan lain sebagainya.
e. Garapan Boneka wayang. Perlu dibuat wayang baru, walaupun ornamennya masih berlandaskan pada wayang tradisi. Pada bagian ini ada dua penjelajahan, yakni :
1) Membuat wayang baru supaya dapat menghasilkan gerak
wayang yang beragam, baik secara keseluruhan maupun secara
anatomi (tidak meningalkan spesifikasi wayang tradisi yang
ada).
2). Membuat wayang ditekankan pada warna yang sesuai dengan
selera anak serta tembus bayang, serta membuat wayang ornament dan tatahannya untuk kebutuhan langsung dan bayangannya menarik bagi anak.
f. Unsur yang lain seperti Panggung wayang yang berisi Layar, lampu, hiasan tanaman dan penataan gamelan, perlu dicari format baru yang praktis dan efektif.
2). Menggunakan repertoar gending dari berbagai gaya yang diminati. Seperti gaya yogyakarta, Surakarta, Banyumasan dan gaya yang lain. ( termasuk gending untuk tari dan atau jenis pertunjukan lain).
3). Menggunakan repertoar gending didasarkan pada konsep
iringan pakeliran padat.
4) Membuat gending baru. Untuk membuat gending baru, pencipta dapat membuat dengan pola bentuk gending yang sudah ada, seperti bentuk gending kethuk loro kerep, ketawang gending, ladrang, ketawang, lancaran, Sampak dan Srepeg. Dan membuat bentuk baru, seperti Gantungan, tandingan, palaran Jenggleng, dan lain sebagainya.
e. Garapan Boneka wayang. Perlu dibuat wayang baru, walaupun ornamennya masih berlandaskan pada wayang tradisi. Pada bagian ini ada dua penjelajahan, yakni :
1) Membuat wayang baru supaya dapat menghasilkan gerak
wayang yang beragam, baik secara keseluruhan maupun secara
anatomi (tidak meningalkan spesifikasi wayang tradisi yang
ada).
2). Membuat wayang ditekankan pada warna yang sesuai dengan
selera anak serta tembus bayang, serta membuat wayang ornament dan tatahannya untuk kebutuhan langsung dan bayangannya menarik bagi anak.
f. Unsur yang lain seperti Panggung wayang yang berisi Layar, lampu, hiasan tanaman dan penataan gamelan, perlu dicari format baru yang praktis dan efektif.
F. Prioritas Pengembangan Garap Pakeliran untuk Anak
Menurut
teori fungsi pengamatan yang dipaparkan oleh Meumann, Stern, dan Oswald
Kroh, dalam perkembangan jiwani anak, pengamatan menduduki tempat yang
sangat penting. Meumann membedakan 3 fase perkembangan fungsi
pengamatan, yaitu :
a)
Fase sintese fartastis. Semua pengamatan atau penghayatan anak
memberikan kesan – total. Hanya beberapa onderdil atau bagian saja yang
bisa ditangkap jelas oleh anak. Selanjutnya, anak akan melengkapi
tanggapan tersebut dengan fantasinya. Periode ini berlangsung pada usia
7-8 tahun.
b) Fase analisa, 8-9 tahun. Ciri-ciri dari macam-macam benda mulai diperhatikan oleh anak. Bagian atau onderdilnya mulai ditangkap, namun belum dikaitkan dalam kerangka keseluruhan atau totalitasnya. Sekarang fantasi anak mulai berkurang, dan diganti dengan pemikiran yang lebih rasional.
c) Fase Sintese logis kurang lebih 12 tahun keatas. Anak mulai memahami benda-benda dan peristiwa. Tumbuh wawasan akal budinya atau insight. Bagian atau onderdil-onderdil sekarang mulai dikaitkan dengan hubungan totalitasnya.
b) Fase analisa, 8-9 tahun. Ciri-ciri dari macam-macam benda mulai diperhatikan oleh anak. Bagian atau onderdilnya mulai ditangkap, namun belum dikaitkan dalam kerangka keseluruhan atau totalitasnya. Sekarang fantasi anak mulai berkurang, dan diganti dengan pemikiran yang lebih rasional.
c) Fase Sintese logis kurang lebih 12 tahun keatas. Anak mulai memahami benda-benda dan peristiwa. Tumbuh wawasan akal budinya atau insight. Bagian atau onderdil-onderdil sekarang mulai dikaitkan dengan hubungan totalitasnya.
Mengacu
pada teori tersebut, maka pengembangan garap kemasan wayang untuk anak
usia sekolah ini perlu mempertimbang skala prioritas garap yang mengarah
proses pada penumbuhan daya apresiasi dan daya hayat anak terhadap
tokoh-tokoh wayang (purwa). Oleh sebab itu dalam penelitian ini sebagai
langkah awal yang dilakukan adalah memberikan contoh-contoh konkret
tentang tokoh-tokoh wayang, terutama yang dipandang paling popular dan
menjadi faforit masyarakat
Khusus untuk kepentingan ini diambil tiga tokoh popular sebagai contoh yang dipandang representatif, yaitu: Bima, Gathutkaca, dan Srikandi. Adapun kemasan model penyajiannya ditekankan pada:
Khusus untuk kepentingan ini diambil tiga tokoh popular sebagai contoh yang dipandang representatif, yaitu: Bima, Gathutkaca, dan Srikandi. Adapun kemasan model penyajiannya ditekankan pada:
1.
Kisah tokoh, yang mencakup: genealogi (silsilah), dan kronologi
(kelahiran, masa kanak-kanak, masa dewasa, perkawinan, dan penobatan
atau jumenengan). (didukung dengan contoh-contoh lakon, narasi dan
deskripsi yang disertai gambar dan;atau foto.
2. Wujud tokoh: wanda wayang berangkat dari wayang tradisi dikembangkan secara berjenjang dari perubahan raut muka, atribut, dan asesoris (dari wujud yang paling komplek hingga yang paling sederhana) mudah ditangkap oleh memori anak. Hal ini dapat didukung dengan penampilan gambar-gambar tokoh: wayang purwa, wayang komik, wayang pengembangan baru, dan wayang wong.
3. Memberikan ilustrasi perbandingan tokoh wayang dengan tokoh-tokoh film kartun yang populer masa kini, seperti: Super Man, Spider Man, dan Herkules, untuk meyakinkan mereka bahwa tokoh-tokoh wayang kita lebih hebat dari pada tokoh-tokoh dari luar itu.
4. Gerak yang menarik; wayang dibuat sedemikian rupa sehingga dalang dapat menciptakan gerak-gerak akrobatik yang menarik bagi anak-anak.
5. Cerita, dikembangkan dari cerita tradisi yang sudah ada, permasalahannya dibangun menjadi lebih sederhana agar lebih mudah dicerna oleh anak. Muatan cerita lebih ditekankan pada pendidikan budi pekerti untuk anak.
2. Wujud tokoh: wanda wayang berangkat dari wayang tradisi dikembangkan secara berjenjang dari perubahan raut muka, atribut, dan asesoris (dari wujud yang paling komplek hingga yang paling sederhana) mudah ditangkap oleh memori anak. Hal ini dapat didukung dengan penampilan gambar-gambar tokoh: wayang purwa, wayang komik, wayang pengembangan baru, dan wayang wong.
3. Memberikan ilustrasi perbandingan tokoh wayang dengan tokoh-tokoh film kartun yang populer masa kini, seperti: Super Man, Spider Man, dan Herkules, untuk meyakinkan mereka bahwa tokoh-tokoh wayang kita lebih hebat dari pada tokoh-tokoh dari luar itu.
4. Gerak yang menarik; wayang dibuat sedemikian rupa sehingga dalang dapat menciptakan gerak-gerak akrobatik yang menarik bagi anak-anak.
5. Cerita, dikembangkan dari cerita tradisi yang sudah ada, permasalahannya dibangun menjadi lebih sederhana agar lebih mudah dicerna oleh anak. Muatan cerita lebih ditekankan pada pendidikan budi pekerti untuk anak.
G. Kesimpulan
Generasi
muda adalah para calon pemimpin bangsa, sebagai calon pemimpin perlu
dibekali pengetahuan kepribadian yang cukup matang. Masa depan bangsa
dan negara ini ada di pundak mereka, selayaknyalah jika sejak sekarang
kita mulai memikirkan secara masak-masak apa yang dapat kita berikan
kepada mereka demi kebaikan dan keselamatan bangsa dan negara ini di
masa mendatang.
Sebagaimana
Ki Hadjar Dewantara dengan konsep tri dharma kepemimpinannya yang
berbunyi: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri
handayani. Artinya, ketika seorang pemimpin menjadi garda depan, harus
menjadi tauladan bagi bawahan dan rakyatnya dalam segala perilakunya.
Ketika berada di level menengah, seorang pemimpin harus mempunyai
inisiatif, mencetuskan ide-ide positif yang memberikan kontribusi bagi
kemajuan negaranya. Ketika seorang pemimpin berada di level bawah, harus
mendukung berbagai kebijakan yang telah diputuskan oleh pemerintah di
pusat, dan melaksanakan sebaik-baiknya.
Pengertian
pemimpin dalam hal ini memiliki arti luas, tidak hanya pejabat-pejabat
formal dalam kelembagaan negara, tetapi semua bangsa atau warga negara
ini adalah “pemimpin”, dalam arti pemimpin bagi negara, pemimpin bagi
masyarakat, pemimpin bagi keluarga, dan pemimpin bagi dirinya sendiri.
Seseorang harus dapat menjadi tauladan, dapat mencetuskan suatu gagasan,
dan mampu mendorong kemajuan negara. Untuk dapat mewujudkan itu tentu
saja orang harus mengisi jiwanya dan mengasah pikirannya dengan berbagai
pengalaman dan pengetahuan. Orang Jawa sangat kental dengan budaya
simbol. Cerita dan tokoh-tokoh wayang merupakan ungkapan simbolik
tauladan-tauladan yang mengandung ajaran kepemimpinan.
Seorang
pemimpin harus pandai-pandai menjaga dan mempertahankan kehormatan
negaranya, melindungi rakyatnya, dan selalu mawas diri (mulat sarira),
mau menerima kritik dan saran dari berbagai pihak, serta berani mengakui
segala kekurangannya, dan sanggup menghadapi segala kenyataan. Segala
sesuatu mengenai cacad dan kekurangan pribadi tidak hanya dihitung
dengan jari, tetapi harus dihayati sampai pada perasaan yang paling
dalam.
Wayang
merupakan produk budaya Jawa sebagai wahana penyampaian nilai-nilai
moral, maka mentauladani nilai-nilai dalam pewayangan boleh dikatakan
merupakan salah satu kewajiban orang Jawa untuk mencapai hidup selaras
dan berwatak bijaksana. Kiranya tidak salah apabila ada orang yang
menyanjung wayang sebagai salah satu seni klasik tradisional yang
adiluhung. Kata adiluhung ini hendaknya tidak sekerdar menjadi obat bius
yang memabukkan, tetapi hendaknya dipahami dalam konteks terhadap
isinya yang mengandung nilai filosofi tinggi dan dikarenakan sifatnya
yang rohaniah dan religius. Nilai-nilai itulah yang perlu ditanamkan
kepada generasi penerus bangsa ini sejak dini.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson,
Benedigt, R.OG., Mithology and the Tolerance of the Javanese. Cornel
Modern Indonesia Project, 1996. Diterjemahkan oleh Ruslani. Yogyakarta:
Qalam, 2000.
Atmatjendana, al. Najawirangka, Serat Tuntunan Caking Pakeliran Lampahan
Irawan Rabi. Jogjakarta: B.P Bahasa dan Sastra Jawa, 1960.
Irawan Rabi. Jogjakarta: B.P Bahasa dan Sastra Jawa, 1960.
Edmund Burke Feldman, 1967. Art AS Image and Idea. New Jersey: Prencict Hall., Inc.
Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, alih bahasa Met Meitasari Tjandrasa. Jakarta: Eirlangga, 1999.
Kartini Kartono, Psikologi Anak. Bandung: Mandar Maju, 1995.
Sastra Amidjaja, Sena, Renungan Pertunjukan Wayang Kulit. Jakarta: Kinta, 1962.
Soesilo, Ajaran Kejawen Philosofi dan Perilaku. Jakarta: Yusula, 2002.
UNESCO, Wayang Indonesia Performance. Livret Program Book. Jakarta: SENAWANGI & PT Gramedia, 2004.
Yuli Nugroho, Samsunu., Semar & Filsafat Ketuhanan. Jogjakarta: Gelombang Pasang, 2005.

0 Komentar