Dewi Durpadi sedang menimba air kejernian (karya: herjaka HS)
Durpadi Sayembara
Hari
menjelang sore, suara kenthongan yang berasal dari pusat Kraton
Pancalaradya atau Cempalaradya, menarik perhatian penduduk kotaraja.
Seperti yang selalu ada di setiap banjar, pada sudut halaman ada bale
duwur untuk menempatkan sebuah kentongan. Dengan kentongan tersebut
setiap warga mendapatkan informasi mengenai kejadian penting untuk
segera ditanggapi. Ada beberapa irama kentongan yang masing-masing irama
menunjukkan kejadian yang sedang berlangsung. Seperti irama khusus yang
terdengar disore hari itu menandakan bahwa ada seorang gadis yang telah
mengalami menstruasi atau datang bulang pertama. Artinya bahwa sang
gadis tersebut telah menginjak usia dewasa, dan siap untuk dipinang
seorang pria. Yang menarik perhatian bahwa suara kentongan tersebut
berasal dari kotaraja. Tentunya ada gadis bangsawan yang menginjak
dewasa dan siap dilamar. Lalu siapa gadis bangsawan tersebut? Akhirnya
teka-teki pun terjawab bahwa Putri raja Cempalaradya tersebut adalah
Dewi Durpadi, anak sulung Prabu Durpada.
Menyusul
bunyi kenthongan yang menandakan bahwa masa kedewasaan Dewi Durpadi
telah tiba, Prabu Durpada berencana menggelar sayembara untuk memilih
dan memilah menantu yang pantas bagi pendamping Dewi Durpadi. Bagi siapa
saja yang memenangkan sayembara, berhak menyunting Dewi Durpadi.
Sayembara yang diadakan adalah mengangkat, menarik busur atau gendewa
pusaka dan melepaskannya anak panah pada titik sasaran yang di sediakan.
Sayembara terbuka bagi siapa saja dan di mana saja.
Beberapa
bulan kemudian, kabar diadakannya sayembara di negara Pancalaradya
telah tersebar jauh di negara-negara tetangga, bahkan sampai di seberang
pulau.
Sepekan
menjelang sayembara, kota raja Pancalarayadya sudah ramai oleh
pendatang-pendatang dari manca nagara yang ingin mengikuti sayembara.
Kesibukan kota meningkat lebih dari sepuluh kali lipat dinbanding dengan
hari-hari sebelumnya.
Pada
hari yang ditetapkan, para raja muda, ksatria, brahmana, para bangsawan
dan rakyat kebanyakan tamplek blek penuh berjejal di alun-alun kotaraja
Pancalaradya. Diantara mereka yang hadir tampaklah para Kurawa, Bima
dan Arjuna, para raja seberang pulau termasuk beberapa raja dari
Atasangin,
Gendewa
pusaka atau busur pusaka Pancalaradya telah disiapkan di panggung
kehormatan. Ukuran gandewa pusaka itu lebih besar dan lebih berat
dibandingkan dengan gandewa pada umumnya. Dari ujung ke ujung gandewa
tersebut tinretes emas murni, sehingga ketika ditimpa sinar matahari
cahayanya gumebyar menyilaukan mata. Peserta sayembara yang dinyatakan
lolos dan menang dalam sayembara adalah peserta yang mampu melepaskan
anak panahnya tepat di tengah titik yang telah ditentukan.
Suasana
menjadi riuh gemuruh ketika Prabu Durpada dan permaisuri mengapit dewi
Durpadi naik ke atas panggung kehormatan, diikuti oleh Gandamana. Para
raja dari seribu negara, sungguh terpana melihat kecantikan Dewi Durpadi
secara langsung. Karena selama ini banyak diantara mereka yang melihat
dan bertemu Dewi Durpadi hanya melalui mimpi.
Ditengarai
dengan pemukulan gong beri sayembara pun di mulai. Satu persatu para
peserta sayembara naik ke panggung dan mencoba mengangkat gandewa pusaka
Pancalaradya. Beberapa peserta telah naik ke panggung kehormatan dan
mencoba mengangkat gandewa pusaka. Namun hingga sampai peserta ke
delapan belas baru ada empat orang yang kuat mengangkat gandewa pusaka.
Namun tidak kuat menarik gendewa pusaka, apalagi untuk melepaskan anak
panahnya,
Menjelang
tengah hari belum ada orang yang dapat memenangkan sayembara. Satu
persatu para raja dari seribu negara gagal memenangkan sayembara. Prabu
Durpada dan prameswari yang didampingi Gandamana berharap cemas dalam
menanti orang yang dapat memenangkan sayembara. Sedangkan Dewi Durpadi
yang duduk di antara Ibunda Ratu dan Prabu Durpada menampakan raut muka
yang tenang, bahkan sesekali Durpadi menebar senyum ketika ada peserta
sayembara yang jatuh karena tidak kuat mengangkat gendewa pusaka.
Pada
saat keraguan untuk mendapatkan pemenang sayembara menghampiri Prabu
Durpada, tiba-tiba diantara orang banyak yang berjubel, melompatlah
dengan ringannya seorang muda rupawan naik di atas panggung. Menilik
dari pakaiannya bahwa pemuda tersebut dari golongan sudra atau rakyat
biasa. Namun dengan menyakinkan seperti laiknya ksatria, ia melangkah
mendekati gendewa pusaka. Diamati sejenak gendewa yang berada didepannya
untuk kemudian diangkatnya. Semua mata memandang ke arah pemuda rupawan
yang dengan ringannya mengangkat tinggi-tinggi gendewa pusaka. Sejenak
kemudian tangan kakannya menarik tali gendewa perlahan-lahan. Maka yang
terjadi gendewa ditangan kiri semakin melengkung dan melengkung dengan
tajam. Anak panah telah diarahkan kesasaran. Ketegangan tampak pada
setiap raut muka yang menyaksikan. Diiringi dengan detak ribuan jantug
yang berdegup semakin cepat.
Namun
sebelum anak panah tersebut meluncur dari gendewa pusaka, Dewi Durpadi
yang berada beberapa langkah di depannya bereriak lantang katanya,
“Cukup! aku tidak mau sayembara ini dimenangkan oleh seorang sudra”
Pemuda
rupawan itu terkejut, dan menampakkan raut muka yang tidak senang. Ia
merasa diperlakukan tidak adil. Maka untuk melampiaskan kejengkelannya
anak panah yang telah siap meluncur tetap dilepaskan ke titik sasaran.
Dan pemuda rupawan tersebut membuktikan bahwa ia pantas memenangkan
sayembara. Anak panah menancap tepat di tepat di tengah sasaran. Sorak
membahana gemuruh menyambutnya. Namun apakah keberhasilannya membidikkan
panah tepat sasaran ini dinyatakan sebagai pepmenang atau tidak, ia
tidak peduli. Yang terutama bagi dirinya bahwa ia yang adalah seorang
sudra telah membuktikan kelebihannya dibandingkan dengan raja-raja
seribu negara.
herjaka HS

0 Komentar