Saudara Tua
Tidak
pernah dibayangkan oleh Patih Sengkuni bahwasanya Kunti dan kelima
anaknya masih hidup. Lalu siapakah enam mayat yang hangus terbakar pada
peristiwa Bale Sigala-gala beberapa tahun lalu?
Masih
jelas dalam ingatannya waktu itu ada enam mayat hangus menjadi abu.
Berdasarkan temuan itu, Patih Sengkuni mengambil kesimpulan bahwa Kunti
dan kelima anak laki-lakinya yang disebut Pandawa Lima mati terbakar.
Jikapun ada yang menduga bahwa mayat yang terbakar tersebut bukan mayat
dari Pandawa dan kunti melainkan mayat enam orang petapa yang singgah di
Bale, mereka tidak berani membuka mulut. Dengan demikian hanya ada satu
berita resmi dari istana bahwa Pandawa, pewaris tahta Hastinapura telah
mati. Oleh karena kematian Pandawa, maka kemudian Sengkuni berhasil
membujuk Destarastra mengangkat Duryudana menjadi putera mahkota.
Namun,
dengan tidak terduga-duga, Pandawa muncul di Pancalaradya sebagai
pemenang sayembara. Maka terkuaklah sebuah kebenaran dan terbukalah mata
rakyat Hastinapura, bahwa Pandawa masih hidup, Bahkan Bima menjadi
semakin perkasa, telah berhasil melumpuhkan Gandamana sapukawat negara
Pancalaradya.
Sengkuni
harus segera merubah strategi dan menyusun rencana baru, untuk
menyingkirkan Pandawa agar tidak mengharubiru atas pengangkatan
Duryudana sebagai putera mahkota Hastinapura.
Berdasarkan
catatan peristiwa yang sudah berlalu, tidaklah mungkin Sengkuni
mengandalkan para Kurawa untuk menyingkirkan para Pandawa dengan
menggunakan cara-cara yang seharusnya dimiliki oleh seorang ksatria.
Karena dengan cara itu para Kurawa yang jumlahnya jauh lebih banyak
tidak pernah menang berperang tanding melawan Pandawa. Pada hal diantara
Kurawa dan Pandawa telah diajarkan ilmu-ilmu yang sama oleh Pandita
Durna di padepokan Sokalima. Namun pada kenyataannya, kemampuan menyerap
dan menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan berbeda jauh antara Pandawa dan
Kurawa.
Jika
pun nanti, untuk menyingkirkan Pandawa terpaksa menempuh jalan perang
tanding, tentunya bukanlah Kurawa yang melakukan, tetapi Kurawa akan
menggunakan orang lain yang dapat mengimbangi kesaktian para Pandawa.
Sengkuni
telah menemukan orang yang diharapkan dapat menandingi Pandawa, yaitu
pemuda rupawan yang bertemu sewaktu mengikuti sayembara di Pancalaradya.
Pemuda rupawan yang kemudian diketahui bernama Basukarno tersebut telah
menunjukkan kesaktiannya. Ia sesungguhnya adalah pemenang sayembara
karena mampu menarik busur pusaka. Namun dikarenakan ia mengenakan
pakaian golongan sudra, sang putri Dewi Durpadi yang disayembarakan
menolaknya.
Tidak
hanya kesaktian menarik busur pusaka, Basukarno juga menunjukkan
kemahiran berolah senjata panah, ketika ia ditantang oleh brahmana muda
berparas tampan. Dengan disaksikan oleh Sengkuni dan para Kurawa
Basukarno memamerkan kemampuannya memanah burung sriti yang terbang
diudara. Dalam sekali bidik puluhan Sriti jatuh ke tanah. Melihat hal
itu hati Brahmana muda tersebut tidak mau kalah, ia kemudian menggunduli
pohon angsana dengan panahnya.
Saat
itu Sengkuni telah curiga bahwa brahmana muda berparas tampan tersebut
adalah Arjuna yang sengaja menyamar. Oleh karenanya ia mengajak
Basukarno untuk bergabung dengan para Kurawa. Karena ialah orangnya
dapat menandingi Arjuna dalam berolah senjata panah.
Setelah
bergabung dengan para Kurawa, bibit permusuhan dengan Arjuna yang ada
di lubuk hati Basukarno dijadikan tunas yang senantiasa disiram oleh
Sengkuni dan Duryudana agar tumbuh mengakar dengat kuat. Dengan demikian
pada saatnya kelak Basukarno mampu membuat Arjuna dan Pandawa celaka.
Basukarno
yang adalah anak angkat dari seorang sais kereta kerajaan yang bernama
Adirata merasa berharga diantara para Kurawa. Oleh Duryudana Basukarno
diangkat menjadi saudara tua dan diberi kedudukan Adipati. Hubungan
antara Duryudana dan Basukarno dari hari ke hari semakin akrab.
herjaka HS

0 Komentar