Oleh: MasPatikrajaDewaku PPW-11-01-0006
5. Akal Cemerlang Erawati.
Ya,
nama Negara tempat menyembunyikan Dewi Erawati adalah bernama
Tirtakadasar. Dinamakan demikian, karena Negara itu ada di dasar muara
bengawan Swilugangga, yang menuju ke laut lepas. Dengan demikian, Negara
ini tidak mudah diketahu apalagi dikalahkan oleh musuh dari negara yang
lumrahnya ada di atas tanah.
Disitulah
raja bersosok raksasa yang berjuluk Prabu Kurandayaksa bertahta. Sosok
tinggi besar. Orang-orang yang kelewat membesar-besarkankan sosoknya,
mengatakan besarnya seperti anak gunung. Kulit kasar merah tembaga yang
ditumbuhi rambut hampir disekujur tubuhnya kelihatan seperti pohon palem
yang tumbuh pada pereng jurang. Kencang kulit itu, bagai tak akan
mempan terkena bermacam senjata. Kedua matanya bersinar menyeramkan
seperti matahari kembar, hidung bagaikan haluan kapal. Geliginya
kelihatan bagai karang pantai yang gemerlap ditimpa sinar matahari.
Sementara gigi taringnya sebesar cula badak, basah oleh air liur
berbisa. Bila ia bersin suaranya bagaikan petir dan ketika bersendawa
seakan bersuara bagai guntur.
Ketika
itu ia sedang duduk dihadap oleh satu-satunya anak lelakinya. Bernama
Kartapiyoga. Rupa Kartapiyoga tidak jauh dari orang tuanya yang serba
gagah sembada. Yang membedakan adalah Kartapiyoga berujud setengah
raksasa. Kedua matanya merah dinaungi oleh helai bulu matanya sebesar
lidi dan mengumpul sedemikian tebal. Demikian juga kumisnya yang tebal
dan panjang. Saking panjangnya kumis dililitkan ke telinga kanan kiri.
Seperti ayahnya, Kartapiyoga juga bertaring panjang, mengerikan, walau
panjangnya “hanya” sebesar pisang ambon. Bila berbicara suaranya keras
menakutkan siapapun yang mendengarnya.
Ketika
menghadap keharibaan ayahandanya, Kartapiyoga kelihatan murung. Maka
berkata Prabu Kurandayaksa memanggil anaknya agar lebih mendekat. Sembah
Kartapiyoga berkali-kali kepada kaki ayahandanya, setelah itu
Kartapiyoga duduk dengan muka menghujam ketanah.
“Eeeeh . . . . hong tete hyang Kala Lodra, Mas patik raja dewaku . . . Anakku Kartapiyoga!” Demikian kata Prabu Kurandayaksa menggelegar bagai hendak melongsorkan istananya.
“Daulat rama Prabu”. Jawab Kartapiyoga
“Kamu
ini serba merepotkan. Lewat sebulan lalu kamu pernah bicara kepadaku,
kalau kamu saat sekarang kepengin kawin. Tidak ada yang menjadi
kecocokan hatimu, kecuali raja putri Mandaraka yang sulung, yaitu Dewi
Herawati. Seribu cara telah kamu lakukan, untuk mendapatkan Herawati.
Karena untuk melamar pasti kamu tidak akan diterima. Maka kamu bertindak
melarikan Herawati dari Mandaraka dan sekarang telah kamu tempatkan
disini. Sampai disitu kamu merasa puas. Tapi setelah aku perhatikan,
akhir-akhir ini mukamu masih menandakan bahwa rasa kecewa masih kamu
rasakan. Anakku hanya kamu seorang. Sekarang katakan, apa lagi yang kamu
rasakan?!!” Kurandayaksa yang begitu sayang kepada anaknya yang hari terkhir seperti tidak lagi bergairah, langsung menanyakan masalahnya.
“Rama
Prabu, kalaulah saya bisa menghitung, jauh sudah merasa kenyang bila
dekat sudah tak lagi bisa menerima semua pemanjaan dari Rama Prabu yang
sudah hamba terima. Seperti yang Rama Prabu katakan, semestinya hati ini
sudah merasa puas setelah hamba mendapatakan keinginan hamba. Tapi
sampai saat ini, putra paduka belumlah mendapat pelayanan dari Herawati
sebagaimana layaknya pria dan wanita. Ketika hamba dekati, ia selalu
memalingkan wajahnya. Dan ketika hamba menjauh, hamba lihat dari
kejauhan itu, ia kelihatan tersenyum gembira”. Kartapiyoga berhenti
sejenak. Diipandangnya wajah ayahnya melihat tanggapan. Ketika tidak
ada yang tersirat dari wajah ayahnya maka kemudian Kartapiyoga
melanjutkan, “Tak lagi putra paduka kuat menahan hati, pada suatu
saat putra paduka memaksanya untuk bicara. Pada akhirnya, ia berkata
yang sebenarnya, ia bersedia meladeni hamba sampai ajal tiba, bila hamba
mempunyai istri lagi yaitu kedua adiknya, Surtikanti dan Banuwati.
Karena mereka telah dari masa kecil telah berjanji akan melayani pria
yang sama. Begitulah rama prabu, apakah yang harus putra lakukan?” Kartapiyoga menghentikan ceritanya sambil kembali bersembah.
Sebenarnya
ada sesuatu yang tidak terpikir oleh Prabu Kurandayaksa atas permintaan
Erawati. Permintaan yang tidak masuk akal bahkan terkesan menyuruh agar
Kartapiyoga kembali ke Mandaraka. Ternyata tidak terpikir oleh
Kurandageni bahwa Erawati telah menjebak Kartapiyoga. Tidak aneh bahwa
Mandaraka sedang dalam siaga penuh setelah kecurian.
Tetapi
Kurandayaksa adalah raja dengan kepercayaan tinggi melebihi nalarnya.
Pikiran Kurandayaksa lebih percaya kepada kesaktiannya. Maka katanya
kepada Kartapiyoga, “Oooh begitu kemauan Herawati. Lakukanlah
Kartapiyoga!! Memang tidak gampang mendapatkan isteri cantik. Tetapi ada
hal yang membuat akau heran. Lumrahnya orang itu tidak mau dimadu.
Tetapi Herawati malah minta dimadu dan oleh adik-adiknya. Turuti
kemauannya!!!”.
“Kapan putra paduka harus berangkat”. Tidak sabar Kartapiyoga berkata.
“Sekarang juga!! Hari ini hari baik. Berangkatlah, pasti terlaksana apa yang menjadi tindakanmu”.
Maka
berangkatlah Kartapiyoga. Setelah Kartapiyoga hilang dari pandangan
mata, Raja raksasa itu kemudian memanggil para punggawa yang bernama
Ditya Pralebda yang termasuk prajurit andalan yang selalu mendapat
kepercayaan menggelar jajahan walau hanya seorang diri. Prabu
Kurandayaksa segera menyuruh Ditya Pralebda agar mendekat ketika telah
terlihat naik ke pandapa.
Setelah
Pralebda duduk bersimpuh dihadapan Prabu Kurandayaksa, kemudian
diperintahkan agar ia segera memata-matai Kartapiyoga yang hendak
kembali ke Mandaraka melarikan putri Prabu Salya yang lain, Surtikanti
dan Banuwati. Setelah tata merakit barisan, maka Ditya Pralebda segera
memberangkatkan pasukannya, yang walaupun serba sedikit tetapi terdiri
dari para raksasa yang berilmu tinggi.
-----
Kembali
kepada Para Kurawa yang sedang mencari keberadaan hilangnya Herawati.
Maka terlihat di muara Bengawan Swilugangga beratus ratus perahu besarta
para penunggangnya yang terjun dan naik kembali ke perahunya dalam
usaha mencari titik terang dimanakah sebenarnya pencuri itu berada.
Suara mereka yang saling memberitahu dimana mereka berada dan teriakan
perintah dari pembesar yang merancang gelar pencarian terdengar
memekakkan telinga.
Tetapi
sebagian dari mereka menjadi terkejut ketika mereka melajukan perahu
tetapi tidak kunjung bergerak maju walaupun sudah mengerahkan segenap
tenaganya. Keterkejutan mereka bertambah ketika perahu mereka malah
terangkat dan muncul raksasa-raksasa yang berwajah menakutkan.
“Gila!!
Ternyata ada banyak raksasa yang mencoba mengacaukan usaha para
Kurawa. Heh raksasa buruk rupa, siapa kamu ini sebenarnya?” Kartamarma yang dekat dengan peristiwa itu menanyakan kepada salah satu raksasa yang diduga sebagai pemimpinnya.
“Akulah
raksasa yang menguasai bengawan Swilugangga yang bisa berrenang dan
juga biasa dan bisa hidup didaratan. Akulah kaula dari Negara
Tirtakadasar, abdi dari Prabu Kurandayaksa. Sedangkan namaku Ditya
Pralebda. Namamu siapa, sebelum kamu mati hanya membawa nama saja?” Pralebda yang menjadi panglima menanyakan siapa mereka.
“Saudara muda raja Astina akulah yang bernama Kartamarma. Segeralah kamu pergi jangan menghalangi usahaku”.
“Bermula
dari usahamu mengobak bengawan Swilugangga, banyak ikan dan hewan
bengawan yang mati. Aku tidak terima, dan kamulah yang menjadi penukar
dari makanan yang kau bunuh itu!”
“Apa maumu?!!!”. Kartamarma tidak gentar.
“Jangan sampai berlarut larut, ayo menurutlah kamu aku jadikan tawanan. Atau kamulah yang aku akan jadikan sarapan pengganti ikan ikan yang pada mati terbunuh!!”.
“Keparat!! jangan hanya bisa omong. Majulah akan aku hancurkan mayatmu!!” Kartamarma tidak sabar dan segera melabrak Ditya Pralebda.
Maka
terjadi pertarungan antara prajurit Astina dengan raksasa-raksasa dari
Tirtakadasar. Prajurit Astina yang menggunakan ratusan perahu, sementara
para raksasa yang terbiasa hidup di air dan didarat segera terlibat
dalam pertarungan sengit. Pertarungan yang tidak seimbang antara jumlah
prajurit yang lebih banyak berasal dari Astina melawan prajurit
Tirtakadasar yang walaupun lebih sedikit, ternyata mereka mempunyai
banyak keunggulan.
Prajurit
Tirtakadasar yang terbiasa bergerak diair dan di daratan ditambah
dengan sosok mereka yang tinggi besar, telah merangsek prajurit Astina.
Maka tidak heran bahwa banyak perahu yang bergelimpangan karam ditelan
arus Bengawan Swilugangga hanyut kelaut lepas. Demikian pula dengan
penunggangnya, banyak yang menjadi santapan para raseksa yang mengamuk
bagaikan segerombolan buaya mendapatkan gerombolan kerbau yang
menyeberang.
Namun
demikian ketika Dursasana dan adik adiknya melihat kejadian ini segera
terjun kedalam kancah pertempuran. Walaupun para raksasa itu berusaha
keras membendung amuk dari Dursasana, Kartamarma, Jayadrata dan lainnya,
tetapi mereka merasa keteteran. Ingat bahwa bukan saatnya untuk
melayani amuk para Kurawa, tetapi tugas mereka adalah mengamati kemana
perginya Pangeran Pati Tirtakadasar, maka mereka segera menjauhi para
Kurawa. Segera Ditya Pralebda memberikan isyarat agar prajurit
Tirtakadasar segera menghindari pertempuran.
Kurawa
yang kemudian kehilangan lacak segera kembali ke perkemahan mereka yang
kemudian disambut oleh Patih Sangkuni. Berkata Patih Sangkuni, “Kartamarma,
setelah aku melihat kekalahan para raksasa, kamu bersaudara, diminta
menghadap kandamu Jakapitana. Diperintahkan kepada kamu semuanya, agar
tidak jauh dari perkemahan kita”. Kemudian mereka segera kembali dengan rasa kemenangan yang memenuhi dada.
-------------------
Kita
tinggalkan sejenak kebanggaan para Kurawa yang merasa telah berhasil
menghalau musuh. Kita kembali bersama perginya Pamade yang belum
menemukan arah pasti kemana harus pergi mencari hilangnya Erawati.
Diumpamakan
bagaikan permata yang lepas dari bingkai cincinnya. Demikian adanya
kepergian Pamade yang meninggalkan para saudara dan ibunya. Kesaktian
dan keperwiraan Pamade ternyata telah tersebar keseantero wilayah maka
tidak mengherankan bahwa pada setiap tempat, Pamade selalu dihormati
oleh para penduduk yang kotanya dilalui. Tetapi sebetulnya bukan karena
kesaktian dan kewibawaan seorang Pamade, melainkan karena keramahannya
dalam melayani mereka yang membutuhkan tenaga dan pikirannya.
Tidak
hanya orang orang yang bermukim dalam kota, demikian juga yang ada
didesa, pinggir hutan puncak bukit hingga kepinggir lautan pun, bila
mendengar orang yang bernama Pamadi melewati pemukiman mereka, perasaan
mereka bagai tersiram sejuknya air pegunungan.
Demikian
Pamadi yang telah terlanjur memenuhi janji kepada Prabu Salya, untuk
mengembalikan putri sulung Prabu Salya, yaitu Dewi Herawati, telah
berjalan tanpa tujuan. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang selalu
mengikuti langkah Pamadi, waktu itu ikut berhenti ketika Pamadi
beristirahat dibawah pohon nagasari yang cabangnya menaungi pinggir
telaga.
Telaga
itu berair bening, diatasnya terhampar teratai merah berkelompok,
menambah keindahan lingkungan telaga itu. Tengah hari itu nampak ikan
yang berbaris dan berseliweran didalam beningnya air, bagaikan bintang
malam yang beralih tempat. Rasa tentram sekeliling telaga telah
menghilangkan rasa penat berganti dengan rasa damai dalam dada. Sejenak
Pamadi melupakan beban kewajiban dan sumpah serapah Surtikanti yang
seringkali terngiang ditelinganya.

0 Komentar