Narasi di-create oleh: MasPatik Raja Dewa
Puncak Acara Gebyar Akhir Tahun 2011, menyambut datangnya Tahun Baru 2012- Siaran RRI Purwokerto.
Lakon
Gathutkaca Nagih Janji ini seperti di-sinopsis-kan oleh Ki Dalang
sendiri yang anggota dari Pepadi Kab. Cilacap, adalah bermula ketika
Kahyangan terjadi goro-goro, dan ternyata goro-goro ini akibat dari
Gathutkaca yang mengingatkan para Dewa akan janjinya terhadap
Gathutkaca. Karena pada saat Gathutkaca masih kecil, ia telah berhasil
menumpas musuh-musuh Dewa sehingga atas senangnya Batara Guru, kemudian
Betara Guru berjanji kelak Gathutkaca akan dijadikan raja di Kahyangan.
Akan tetapi, hari berganti bulan berlalu ternyata hanya janji tinggallah
janji saja. Dengan inisiatif anak muda, Gathutkaca berusaha menagih
janji dan ternyata, Bathara Guru kurang me-response dengan baik.
Pertanyaan dari Dhalang asal Tegalreja-Cilacap dalam akhir sinopsis-nya
adalah, bagaimana akhir ceritanya?
Untuk
para pecinta wayang di “wayangprabu.com”, akhir cerita bukan segalanya,
begitu kan Pak Dhalang? Tapi yang ingin membuat penasaran para rawuh di
“wayangprabu.com” adalah bagaimana goteke dhalang sekang Cilacap kiye.
Ala la . . . anu balik maning tulisan inyong maring gaya mBanyumas
deneng.
Kenapa
demikian? Sekian lama para rawuh di wayangprabu.com mungkin telah akrab
membaca komen dari Ki Tejo Sutrisno, yang setahu saya adalah dalang
gagrak mBanyumasan yang nyantrik mendalang di Semarang. Dan itu yang
saya tahu dari catatan pada masa wayangprabu masih paling banter 15 user
on line pada saat peak season. Dengan demikian yang terbayang dalam
benak saya adalah, gagrak mBanyumasan dengan cita rasa yang berbeda
dengan gagrak mainstream mBanyumasan pada umumnya.
Nah
untuk menguak rasa penasaran, saya langsung memutar bagian pertama dari
dua file. File yang pertama begitu dibuka berkumandang jingle RRI,
kemudian terdapat intro sambutan dari para pejabat dan sinopsis dari Ki
Tejo mengenai jalannya cerita yang saya kutip diatas. Durasi untuk
prosesi ini memakan waktu sekitar 16 menit.
Sekilas
talu telah dilewati dan jejer Kahyangan Jonggring Salaka telah dimulai
dan terkuak sedikit rasa penasaran setelah intro jejeran dikumandangkan.
Dalam sesi awal ini terbayang adegan jejeran khas Banyumasan, dimana
pasamuan itu diawali dengan keluarnya emban dan limbuk. Ini dapat
dirasakan ketika kendangan mengisyaratkan limbuk yang sedang berjoged.
Rasa
penasaran semakin lebar terkuak, ketika janturan jejer suara dalang
mulai terdengar. Ternyata Ki Tejo Sutrisno bergaya Gino! Cengkok suluk,
suara gurung, lageyan ketika melakonkan raseksa berusaha disamakan
dengan jebles. Yang membedakan adalah suara kepyak yang berciri
Surakarta, mungkin karena beliau mapan dengan suara keprak gaya
pakeliran yang disadapnya ketika meguru di Semarang.
Jejer
Kahyangan berlangsung dengan lancar. Janturan menyesuaikan dengan
suasana dan kondisi yang diceritakan. Berbeda dengan janturan ketika
menceritakan “panjang apunjung pasir wukir gemah ripah dan kerta
raharjanya-nya suatu negara di madyapada, tetapi narasi lancar
menceritakan situasi kondisi kahyangan yang pasti berbeda dengan yang
terceritakan bila jejeran bermula di madyapada. Kredit point baik kami
apresiasikan kepada dalang yang menggemari tokoh Srenggini ini, dalam
melakonkan jejeran Sikandhawaru Binangun.
Setelah
diikuti lebih seksama, ternyata plot cerita dimulai jauh hari dari
lakon Gathutkaca Nagih Janji, yaitu ketika Kala Sekipu hendak meminta
Dewi Supraba. Atau dapat dikatakan cerita Gathutkaca nagih janji ini
bermula dari flashback Gathutkaca ketika lahir dan menjadi sraya para
Dewa, dengan tidak ketinggalan dijebornya Gathutkaca di Kawah
Candradimuka lengkap dengan kerocokan gegaman dari para durandara.
Sayang,
ketika adegan Antasena, Antareja, Anoman dan ada Bawor-nya yang sedang
menunggui tapanya Gathutkaca sedang berlangsung, panitya RRI menentukan
adanya acara pergantian tahun disiarkan langsung. Sedangkan file yang
diberikan ke Pak Edy Listanto-pun berakhir.
Kami memohon Kang Tejo meng-upload kembali lanjutan ceritanya. Inyong esih penasaran koh.
Tetapi
dari keseluruhan pagelaran yang sudah saya dengarkan, terdapat hal yang
perlu disempurnakan dalam hal audio karawitan. Instrumen gamelan yang
begitu lengkap terhampar dengan jenis yang cukup banyak, sayangnya tidak
ter-ekspose dengan merata. Lebih didominasi dengan suara kendhang dan
saron serta suling sedikit layap-layap terdengar.
Alangkah
lebih baik bila tata suara mengutamakan instrument yang mempunyai kuat
suara yang lembut seperti demung, slenthem, gender, gambang dan pengisi
interval beat seperti sepasang bonang. Kendhang dan saron yang dominan
akhirnya mengingatkan masa kecil saya, ketika nonton ebeg.
Mungkin
sound engineer RRI perlu niteni bagaimana Kusuma Record atau Dahlia
Record meng-combine perangkat karawitan agar halus terdengar dan adil
dalam membagi kuat amplitude masing masing perangkat gamelan. Kepriwe
sih kancane Pak Edy Wahidin karo Kang Edi Warsito RRI Purwakerta?
Rupa
candra sasi nabiiiii . . . . bumi buda . . . . . . . . . . . Bagaimana
kelanjutan ceritanya (seperti dikatakan dalam sinopsis) Ki Tejo? Kita
tunggu upload dari Ki Tejo Sustrisno yang sering mampir di
wayangprabu.com ini.
Linknya disini:

0 Komentar